BERBAGILAH DENGAN HANTU

April 16, 2012

Belakangan ini aku sering teringat saat-saat persiapan ku mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN) 3 tahun yang lalu tepatnya di bulan mei tahun 2009. Semua persiapan dilakukan, mulai dari jasmani dan rohani, baik itu belajar siang malam, sholat sunat semakin sering, sampai mengadakan sholat hajat bersama di lapangan sekolah yang bertujuan agar hajat (keinginan) untuk lulus UAN tercapai.

Sholat hajat bersama itu dilakukan malam sebelum hari pertama UAN, yang pada saat itu hanya dilaksanakan oleh semua anak kelas 3 jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) termasuk aku sendiri. Sekitar jam 5 sore kami semua sudah berkumpul di sekolah menyiapkan peralatan yang akan digunakan.

Setelah jam 6 kami serentak menggelar sajadah kami masing-masing di tengah lapangan, radio pun mulai dinyalakan untuk mengetahui kumandang adzan. Langit pun mulai meredup seiring bersembunyinya matahari jingga, kicau burung di sore hari pun pelan-pelan mulai menghilang yang terdengar hanyalah suara ngaji dari radio yang dinyalakan.

Kumandang adzan magrib terdengar saat langit sudah berubah menjadi biru tua hampir gelap, kami yang sebelumnya sudah mengambil wudhu bersiap untuk melaksanakan sholat magrib yang dipimpin seorang ulama yang juga menjadi penceramah di hari itu.
Selesai sholat magrib dan sholat sunat-nya kami semua melanjutkan untuk segera melakukan sholat hajat dengan bimbingan sang ulama terlebih dahulu, waktu itu sudah menunjukkan jam 7 lewat, keadaan sekolah sudah mulai hening senyap hanya ada kami di tengah lapangan.

Setelah melaksanakan sholat hajat sambil menunggu masuk waktu isya kami diberi ceramah agama oleh ulama itu, keadaan saat itu sudah mulai gelap gulita hanya ada pencahayaan dari lampu di teras kantor yang ada di depan kami, semua kelas gelap tak ada lampu satu pun. Ku lihat dari kejauhan seorang penjaga sekolah sedang duduk di depan pagar sekolah sendirian.

Kami semua hanya diam seksama mendengar ceramah, namun tidak dengan ku. Mulut ku
memang diam tapi mata ku tak bisa diam, mata berjalan kemana-mana menelusuri setiap sudut sekolah yang bisa ku lihat. Hawa dingin yang bagi ku asing mulai datang, padahal saat itu hari tidak sedang mendung sangat mustahil jika ada angin dingin menerpa kami.

Mata ku tertuju pada kelas ku yang gelap yang berada di pojok sekolah, di samping kelas ku ada jalan kecil yang menuju wc. Di sore hari saja sudah cukup mengerikan jika lewat situ apalagi malam hari. Mata ku terus menatap ke arah sana mematung tak bergerak sedikit pun, entah apa yang ingin ku cari tau dari tempat itu yang pasti ada sedikit keganjilan dari tempat itu, aku bisa merasakan ada sesuatu dari tempat namun aku tidak bisa melihat apa itu karena aku hanya melihat kegelapan di tempat itu.

Aku dikagetkan oleh teman ku yang mencoba untuk berbicara dengan ku, hal itu membuat buyar apa yang aku lihat. Selesai menjawab setiap pembicaraan teman ku dan penceramah yang masih berbicara, mata ku kembali berkelana kali ini mata ku kembali tertuju pada jalan kecil menuju wc di belakang itu, tapi seolah mengikuti sesuatu mata ku bergerak mengikuti jalan dari wc itu melewati lorong-lorong kelas yang gelap dan menuju ke lapangan tempat kami sekarang.

Apa yang ku lihat kembali buyar saat teman di sebelah kanan ku mengajak ku berbicara, ku tanggapi pembicaraannya sambil ku mendengarkan ceramah yang ada di depan ku. Tapi mataku tidak ke teman ku juga tidak ke penceramah, namun mata ku tertuju pada kantin di sebelah kantor, di depan adalah kantor kepala sekolah tepat di sebelah kantor kepala sekolah ada dua kantin yang pada malam sangat gelap karena tidak ada lampu, lampu di teras kantor pun tidak mampu memberikan sinar yang cukup.

Mata ku terpaku pada kantin itu, aku bisa merasakan ada seseorang atau mungkin tepatnya sosok yang tidak bisa ku lihat sedang berdiri di depan kantin itu. Saat sedang terpaku pada kantin itu tanpa berkedip aku tersadar saat ku dengar kumandang adzan yang cukup nyaring dan juga suara gaduh dari teman-teman ku yang mulai berdiri untuk bersiap melaksanakan sholat isya.

Sholat isya pun sudah kami laksanakan saatnya makan bersama, salah seorang guru kami sudah memesan nasi bungkus untuk kami semua, “supaya ada rasa kekeluargaannya,” kata seorang guru yang hadir saat itu.

Tanpa pikir panjang kami semua menyantap makanan itu yang kebetulan aku belum makan dari siang. Saat makan aku duduk di lantai teras kantor menghadap ke arah kelas yang di seberang kantor tepatnya kelas UJP (Usaha Jasa Pariwisata) yang gelap tanpa penerangan yang cukup. Lagi-lagi aku merasakan hal yang aneh disana aku merasa ada seseorang yang sedang melihat apa yang kami lakukan, hal itu membuat makan ku menjadi lambat.

Makanan yang tersedia sudah kami lahap dengan tak bersisa sedikit pun hanya tertinggal bungkusnya saja yang sudah menggunung di tempat sampah, “ayo kita ngumpul sebentar dan berdoa bersama agar kita bisa lulus,” teriak salah seorang teman ku yang bertubuh jangkung. Kami pun mengiyakan ajakannya, kami berkumpul membentuk lingkaran tepat di tengah lapangan dan kami mulai berdoa dinaungi langit malam yang gelap. Saat kami berdoa ada salah seorang teman cewek ku yang tidak ikut dalam lingkaran memotret kami dengan kamera hp nya, dia berada tepat di belakang ku untuk mengambil gambar.

Malam itu pun berakhir sekitar jam 9 malam, karena rumah ku dekat jadi ku memilih untuk jalan kaki saja walaupun saat jalan pulang aku sempat merinding saat melewati pohon besar di persimpangan menuju jalan rumah ku.

***
Keesokan harinya, hari pertama UAN aku datang lebih awal dari biasanya, dan aku datang bersama teman ku. Kami berdua duduk di dekat taman sambil membaca kembali soal yang diperkirakan keluar nantinya.

Aku masih ingat saat itu jam setengah 8, teman ku yang malam tadi memotret kami datang dan dia langsung heboh memanggil kami semua, merasa heran aku pun menghampiri dia dan melihat apa yang dia hebohkan. Ternyata foto kami malam tadi menyimpan keganjilan.

“Tadi pagi setelah aku cek lagi foto ini aku nemuin ini,” katanya sambil menunjuk bagian sisi kanan foto. Aku yang awalnya tidak melihat apa yang aneh meminta dia untuk zoom foto itu, dan bisa kulihat apa yang aneh, ternyata di foto itu tepat di depan kelas UJP berdirilah dua sosok bayangan perempuan dengan rambut panjang dan matanya yang hitam berbaju putih yang bagian bawahnya melayang, sosok pertama sebelah kiri seperti membawa bayi dan sosok kedua yang ada disebelah kanan berdiri namun bentuknya kurang jelas. Sangat jelas terlihat sosok pembawa bayi itu melihat ke arah kami yang sedang berdiri di tengah lapangan tatapannya tajam.

“Kita kan malam tadi enggak gangguin mereka,” kata ku sambil tetap menatap foto di hp itu.

“Namanya juga sekolah pastilah ada yang penunggunya,” jawab temanku.

Apa yang kurasakan malam sebelumnya ku ceritakan pada teman ku yang bisa melihat makhluk astral, ternyata itu dibenarkan oleh teman ku itu dan menceritakan apa yang dia lihat.

Dia bercerita bahwa sosok perempuan yang ada di foto itu awalnya ada di jalan kecil menuju wc, “dia berdiri di depan jalan itu,” kata teman ku, yang ku benarkan karena aku juga merasakan yang sama. Teman ku kembali menjelaskan, “lalu dia berjalan melalui lorong kelas menuju lapangan dan berhenti di depan kantin sebelah kantor kepala sekolah, disana dia cukup lama memandangi kita yang sedang duduk, makanya aku enggak begitu berani lama-lama melihat ke arah itu.” Aku hanya diam mendengarkan ceritanya, dia terus bercerita apa yang dia lihat, “saat kita makan malam tadi sebenarnya dia sudah ada di depan kelas UJP itu melihat kita sampai kita berdiri di tengah lapangan membentuk lingkaran.”

“Dan akhirnya dia tertangkap oleh kamera hp ?” tanya ku, dan teman ku hanya meangguk.

***
Selesai ujian hari pertama aku bertemu dengan ibu penjaga perpustakaan di sekolah ku, ku ajak ngobrol beliau dan ku ceritakan apa yang terjadi malam sebelumnya, “kalian kan malam tadi makan-makan, harusnya kalian nawarin mereka juga, walau bagaimana pun mereka juga bisa melihat apa yang kalian lakukan, mereka juga makhluk yang juga bisa makan,” jelas ibu itu.

Aku baru menyadari hal itu, sudah banyak orang yang mengatakan hal yang sama kepada ku, “iya ya bu harusnya ngasih mereka juga, tapi malam tadi makanannya pas bu jadi enggak ada sisa.”

“Diberi sedikit aja mereka udah senang,” jawab ibu penjaga perpustakaan.

Ada benarnya mungkin hal itu yang membuat mereka menampakkan diri melalui foto, karena aku yang baru pertama kali melihat penampakan langsung walaupun melalui kamera cukup takjud melihat wujud mereka itu. Sampai-sampai foto itu ku minta dan ku simpan ke komputer ku, kadang-kadang aku terus memperhatikan penampakan itu yang wajahnya tidak begitu menyeramkan sebenarnya mungkin terlihat dia ingin dikasihani atau ingin meminta. Dari situ aku tahu bahwa penampakan makhluk astral hanya berbentuk bayangan putih kebiru-biruan namun sangat jelas.

Hal itu juga memberikan pelajaran untuk ku bahwa di dunia ini kita tidak tinggal sendiri ada makhluk lain yang juga tinggal di dunia yang fana, kita hanya dipisahkan tirai tipis dengan kehidupan mereka, mereka juga sama dengan kita, mereka bisa senang, bisa sedih, bahkan bisa marah, sama halnya dengan kita, jadi kita juga harus menyadari hal itu tapi jangan sampai kita diperbudak oleh mereka.

Namun sayangnya foto itu adanya di komputer ku dan komputer ku sekarang masih rusak jadi gak bisa ngambil filenya, semoga nanti aku bisa mengambil foto itu dan akan menjadi dokumentasi yang menarik.


H2O

You Might Also Like

5 comments

  1. rada.rada serem bacanya...
    tapi pengen liat hen.. :D

    ReplyDelete
  2. Waw, cerita horor tengah malam, nyam nyam..

    ReplyDelete
  3. Coretan Cii Condel : pengen liat apa ? hantu nya ? :)

    ReplyDelete
  4. Gaptek Update : memang enak baca sajian horor malam-malam.. hehehe :)

    ReplyDelete
  5. iyaa...hehehe
    kapan pict nya mau di post??
    mampir donk di blog akuu :D

    ReplyDelete