KUBURAN SAJA BERDAMAI

August 26, 2013

9 Agustus 2013 (2 Syawal 1434 H) langit berawan dan mendung. Hari itu saya ingin ke rumah kakek bersama keluarga. Perjalanan dari Banjarbaru menuju Banjarmasin, namun sebelumnya kami mampir terlebih dulu ke kuburan nenek yang berada di Jl. A. Yani Km. 29.

Sudah lama juga saya tidak ke kubur nenek, saat masuk ke komplek kuburan maka di sebelah kiri akan terlihat kuburan muslim dan di sebelah kanan terlihat kuburan kristen (saya tidak menanyakan apakah itu kuburan kristen protestan atau katolik).

Sebenarnya tidak ada yang menarik, sama seperti kuburan-kuburan biasanya hanya saja karena hari itu masih dalam suasana lebaran maka cukup banyak orang yang berjiarah dan para pedagang yang berjualan di sekitar komplek makam.

Tapi menurut saya dibalik sunyinya dan angkernya (bagi sebagian orang) kuburan-kuburan itu ada pelajaran yang bisa kita ambil. Memang jika kita lihat kuburan kristen terlihat lebih mewah (mungkin tradisi mereka) tetapi terlepas dari itu kuburan-kuburan tersebut terlihat berdampingan dengan damainya, para pejiarah pun juga bisa saling menghargai.

Islam ataupun kristen akan kembali ke tempat asalnya yang sama yaitu tanah. Kuburan saja bisa berdampingan kenapa kita yang masih di dunia ini tidak bisa hidup berdamai antar umat bergama. Memang kita tidak tahu bagaimana kehidupan mereka di dalam kubur sana tetapi berdampingnya kuburan beda agama menunjukkan sikap toleransi yang menjadi nilai kehidupan Pancasila di Indonesia.

Saya rasa inilah salah satu nilai yang bisa diambil dari berjiarah ke kubur, dimana kita belajar tentang hidup, menghargai hidup diri sendiri, hidup orang lain, maupun kehidupan di bumi ini. Saya harap masyarakat seluruh dunia khususnya masyarakat di Indonesia bisa kembali menjunjung tinggi sikap toleransi, tidak mudah tersulut oleh api profokasi orang-orang munafik, sehingga kehidupan damai yang dicita-citakan semua orang bisa terwujud. Aamiin.


-H2O-

You Might Also Like

0 comments